Minggu, 23 Agustus 2009

TANGIS DI MALAM FITRI



       Malam semakin larut namun berbeda dengan cahaya bintang yang kulihat disana, semakin larut semakin terang, menebarkan pesona sinarnya yang menawan. Begitu pula langit yang terhampar luas diatas sana memberi senyuman yang manis padaku, mengingatkanku pada senyuman mereka yang kurindukan disana, senyuman hangat yang menghapus tirai kegelisahan, kegalauan dan mendatangkan semangat yang tak terhingga yang mendorongku berada disini,mereka tak lain adalah ibuku dan adik-adikku. Tak terasa telah satu tahun ku berada di negeri orang, mengembara hanya untuk mengais rezeki agar dapat menyekolahkan adik-adikku. Karena kondisi ibu yang sudah tua renta yang tak mungkin lagi untuk menafkahi adik-adikku.
  “Ah,,,”aku menarik nafas
Gema takbir malam ini benar-benar syahdu, menusuk relung kalbu. Iramanya lembut bak embun merasuk sukma. Jutaan umat muslimin di seluruh dunia merayakan hari kemenangan ini, tak beda denganku. Tahun lalu aku dan adik-adikku juga melakukan hal yang sama, menunggu hari dimana kebahagiaan umat muslim tiba. Walau mungkin kebahagiaan itu tak sempurna karena ada bagian yang hilang dari kami, sang peneduh jiwa pemimpin keluarga, Ayahanda kami tercinta. 
                Tahun lalu, dimana ku masih bisa bersandar di pelukan ibu, dan diiringi tawa manja adik-adikku. Sambil menikmati alunan takbir yang membahana tundukkan semesta 
Malam fitri ini sungguh mengingatkanku pada mereka, dan kejadian 3 tahun yang lalu, dimana ayahku menghembuskan nafas terakhirnya.
Saat itu, Di malam fitri itu aku tergopoh-gopoh menerobos kedinginan malam, berbekal uang 500 ribu rupiah yang kuhasilkan dari kerja kerasku. aku berlari kesana kemari untuk mencari uang seharga10 juta untuk biaya operasi ayah, ayah yang telah tiga hari menginap dirumah sakit karena gejala penyakit jantungnya kambuh.
Akupun terkatung-katung mencari uang dari mulai mentari muncul hingga senja tiba. Tiga hari ini kami bekerja keras demi kesembuhan ayah. Ibuku setiap pagi buta membuat makanan untuk santap sahur untuk dijual, aku dan adikku menjajakan makanan tersebut kesetiap sudut pasar dan pinggir jalanan. Pukul 5.00 biasanya makanan buatan ibu habis, Tak banyak yang kami dapat tapi cukup besar bagi kami yang benar-benar perlu uang itu untuk menebus biaya perawatan ayah selama tiga hari ini.
Ibuku benar-benar cemas tiap hari ia menunggui ayah di rumah sakit ditemani kedua adikku Zahra dan Ica yang berumur 4 dan 6 tahun. Untuk menambah kekurangan, seusai berjualan makanan ibuku aku beranjak pergi kejalanan untuk menjajakan koran hingga senja tiba, hasilnya seperti biasa kita kumpulkan untuk mencukupi biaya perawatan Ayah. Namun hari ini tak bisa kuduga Ayah tiba-tiba kambuh dan kata dokter ia harus dioperasi karena kedaannya yang sudah sangat kritis, kami tidak bisa mengelak lagi. Kami saling berpandangan, tak ada pilihan lain untuk kesembuhan ayah, dan itu berarti kami harus mengumpulkan uang sebesar 10 juta untuk biaya operasi ayah.
           Ku lihat Ibu menangis mendengar keputusan itu, matanya yang sayu terus menerus memandangi tubuh yang dililiti kabel infusan itu, aku sungguh tak tega melihatnya. Ku coba tegarkan hatinya.
  ”Jangan khawatir bu, Hafidz akan coba mencari uang itu untuk biaya operasi ayah, percaya Bu,, ayah akan sembuh”. ucapku menenangkannya.
         Air matanya tak henti-henti mengalir sambil menganggukan kepala disertai pesan yang tertulis diwajahnya, memohon agar aku dapat mencari uang itu untuk kesembuhan ayahku”. 
Akupun pergi menerobos derasnya hujan dimalam fitri itu, indahnya alunan takbir yang membahana menghangatkan tubuh dan jiwaku yang terasa beku ini, kumengingat sesuatu, pikiranku melayang kesudut lemari kamarku, dua tahun ini aku menabung uangku dicelengan tanah liat berbentuk ayam jago itu. Ada dua celengan, yang pertama aku sisihkan untuk kedua adikku dan yang satu lagi aku sisihkan buatku sendiri. Uang yang tiap hari aku hasilkan mulai dari berjualan koran, menjual barang rongsokan sampai menjadi tukang parkir gadungan. Aku simpan semuanya dicelengan itu, celengan yang aku impikan dapat aku pakai agar aku dapat membiayai sekolahku sampai SMU. Maklum saja aku hanya bocah lulusan SD yang mempunyai seribu mimpi ingin meraih pendidikan yang tinggi, namun karena biaya ekonomi yang menjepit memaksa kami membanting tulang disaat usia kami masih belia. Aku pecahkan tumpukan 2 patung tanah liat itu tanpa ragu,,
      “Creng…..”
Benda logam itu berhamburan keluar, diantaranya ada beberapa uang kertas berwarna biru. Aku hitung dengan penuh semangat hingga selesai aku menghitungnya,
   “Lima ratus ribu rupiah”..akupun bergegas membungkus uang recehan itu dan kumasukkan ke kantong lusuhku.
          Aku mencoba mencari bantuan ketetangga,-tetangga agar meminjamkan uangnya untuk biaya perawatan ayah kami. Dan alhamdulillah merekapun memberinya, namun biaya itu masih tak cukup untuk membiayai operasi ayahku, uang yang terkumpul baru satu juta lima ratus ribu.
         Disudut ruang putih itu ibuku cemas tak kepalang, ia menungguku dengan harapan dapat membawa segepok uang untuk biaya operasi ayahku, adik-adikku pun hanya menangis menatap ibu, Ibupun merangkul mereka dengan penuh kehangatan.
Rintik hujan semakin deras, dingin malam pun mulai merasuk kesela-sela sumsumku. Kemana lagi aku harus mencari sisa kekurangan uang ini. Disaat takbir berkumandang, disaat orang lain berbahagia menyambut malam indah ini, “mengapa aku yang harus berada dalam posisi ini ya Rabb”.jeritku protes dalam hati, kemana lagi aku harus cari uang sebanyak ini?”
       Di sudut jalan di bawah pohon besar ini, aku berteduh, gumpalan awan hitam yang terhampar dilangit itu seakan menatapku iba dan seolah-olah berkata ”Tabahkan hatimu Nak”. Bak seorang ibu memberi pancaran kasih sayangnya, tubuhku menggigil tak karuan, hujan yang tak kunjung reda tak patahkan semangatku setetespun, Akupun menoleh pada rumah besar yang berdiri dihadapanku, rumah seorang manusia busuk yang bersembunyi dibalik tirai harta kekayaannya. Pak Reno, begitulah orang-orang memanggilnya. Dia satu-satunya orang terkaya di daerah kami, Dia sering menolong orang dengan syarat ada imbalan balik, ya itulah seorang rentenir. Ia adalah seorang rentenir. Pikirankupun telah buntu, satu-satunya yang kupikirkan hanyalah kesembuhan ayahku. Akupun berlari kerumah gedong tua itu. Ku ketuk pintu besar istananya, ku sampaikan niatku untuk meminjam uang padanya seharga 8.500.000. 
Tanpa ragu ia memberikannya, baik sekali ia,namun berapakah yang harus ku bayar sebagai gantinya?, bunga yang harus kubayar 2x lipat dari uang yang kupinjam, tak lama akupun setuju dengan pikiran aku akan bekerja keras setelah ayahku dapat sembuh kembali. Hatikupun tak kalut lagi, Petir yang tadinya bersahut-sahutan pun kini mulai diam menutup mulut, ikut senang atas keberhasilanku mendapatkan uang ini, akupun berlari terseok-seok melewati jalan-jalan becek ditengah suara bedug yang bertalu-talu. Hatiku berbinar, cahaya diwajah ibu akan besinar kembali. Tepat pukul 23.00 aku tiba di Rumah sakit itu, 
Hening…..
     Aku tak mengerti mengapa wajah ibu bertambah pucat melihat kedatanganku, aku mendekatinya perlahan dengan nafas terengah-engah.
“Bu,,hafidz sudah dapatkan uangnya bu”
          Mulutnya semakin tertutup rapat, Adik-adikku menangis sambil memeluk ibu. Ku torehkan wajahku pada tubuh yang terbujur kaku di hadapan ibu, Seorang pria ditutupi kain kafan, kubuka kain itu dan ku sontak terkejut karena mayat yang lihat ini adalah Ayahku.
Tubuhku mematung, aliran darahku berdesir kencang, seluruh tubuhku tiba-tiba saja seperti tertimpa beban berton-ton beratnya. Lidahku mendadak kelu, pandangan mataku kabur dan semuanya tampak gelap.
                                                                              # # #
Tiba-tiba ada suara membuyarkan lamunanku..
“Fidz..ke mesjid yu,kita takbiran bareng,jangan ngelamun truz!” ajak temanku 
“O…ya…iya…”jawabku kaget.
Akupun beranjak dari tempat duduk itu sambil menyeka air mataku. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar