Minggu, 23 Agustus 2009

SETANGKAI MAWAR UNTUK NURI


 
        Nuri, bagiku namanya indah dibandingkan dengan nama wanita lainnya, dihatiku, ia menduduki tempat teratas yang tak bisa tergantikan oleh siapapun.Nuri, parasnya cantik bak rembulan di malam hari, tiap kata yang keluar dari mulutnya bak melodi indah menggema di hatiku, seindah kiacauan burung-burung nuri.
        Nuri, wanita yang ku impikan dan selalu kupuja setiap saat, bibir merahnya selalu merekahkan senyum, pipinya yang merah merona membuatku tak pernah jemu memandangnya, tiap hari ku hanya bisa menatapnya dari bangku belakang kelas atau dari jendela disudut kamarku secara diam-diam, karena kebetulan rumahku tak jauh darinya,sebenarnya rumah kami berdekatan hanya dihalangi sebuah warung kios milik Pak Haji Munir. Semakin hari ku mamandang wajah ayunya, semakin kencang pula hatiku berdebar, sebenarnya ada keinginan hati untuk mendekatinya namun aku takut, aku segan. Aku takut ia tak mau berteman denganku walaupun aku tahu dia orang yang ramah dan tidak sombong, rumah gedongnya seolah menertawakanku dan menyuruhku agar bercermin diri, membuatku semakin “minder” untuk mendekatinya, ditambah lagi aku hanya simiskin yang setiap harinya memulung sampah agar dapat sekolah dan menyambung hidup.
           Duhai Nuriku, Dara cantik nan elok, aku tak tau mengapa hati ini begitu tergila-gila kepadamu, melihat semyummu hatiku senang tak kepalang bak mendapat rezeki berlimpah-limpah, tak makan berhari-haripun aku sanggup asal dapat melihat semyummu, aku tahu semua hal tentangmu, hal yang kau sukai dan tak kau sukai, tanggal lahirmu, warna kesukaanmu, segalanya kuketahui hanya demi engkau Nuriku.

            Aku hanya dapat memandangnya dari jendela di pojok kamarku, di sore hari ia selalu bermain ditaman, merawat bunga-bunga mawar kesukaannya, ia cium dan tak henti-hentinya ia pandangi bunga itu sambil menyunggingkan senyum, wahai Nuriku, indah sekali kau tersenyum, dari situlah aku mengetahiui ia suka mawar. 
            Tiap tahun dihari ulangtahunnya, aku selalu membeli setangkai bunga mawar, ya,,sebuah mawar untuk bidadariku, Nuri. Walaupun harganya mengocek uang makanku selama tiga hari tapi itu tak jadi masalah, semuanya akan kulakukan untuk Nuriku tersayang. Nuri, gadis yang kukenal sejak usiaku 8 tahun, sungguh membuatku tak dapat berpikir logis, semakin hari aku semakin tersiksa dengan perasaan yang membakar jiwaku ini, pernah kuberpikir untuk menyatakan perasaanku, namun rasa itu selalu menyergap dan menggerogoti seluruh urat keberanianku, mana mungkin seorang kumuh mencintai gadis cantik jelita anak anak salah satu anggota DPR di negaraku, kalaupun aku menyatakan perasaanku aku tau ini akan menyakiti diriku sendiri karena ia tidak mungkin menerimaku, ditambah lagi aku hanyalah pria hitam berpenyakitan,ya,,,,aku mengidap epilepsi, entah dari mana penyakit itu datang, yang aku tau penyakit ini telah bersemayam ditubuhku sejak aku lahir, ada masalah dengan urat syarafku katanya. Hal inilah yang membuat teman-temanku menjauhiku dan hal ini pulalah yang membuatku tak ingin terlalu dekat dengan Nuri, walaupun ia selalu menegurku di setiap harinya. 
                Pernah suatu waktu penyakit epilepsiku kambuh dikelas, mulutku berbusa dan tubuhku kejang-kejang seperti orang kesurupan, semua orang menjauhiku, aku dianggap orang aneh, namun berbeda dengan Nuriku, ia mendekatiku dan menghapus semua busa yang keluar dari mulutku tanpa jijik sedikitpun, ia panggil guru-guru sehinggga aku dibawa ke ruang UKS, kumelihat sekilas apa yang tersirat diwajahnya, namun itu bukan cinta melainkan rasa iba, iba melihat kondisiku.
               Duhai bidadariku, ku ikat semua mawar yang kubeli ataupun kupetik dari taman tetangga hanya untukmu Nuriku. dihari ulang tahunnya, seperti biasa aku menulis surat hanya sekedar mengucapan selamat ulang tahun disertai setangkai mawar untuknya. Terkadang aku luapkan pula isi hatiku dan segala aku rasakan selama ini dalam surat itu.Namun aku tak pernah berikan padanya, cukup kusimpan disebuah kotak antic dilemariku. Bagiku, mengagumimu merupakan sebuah kebahagiaan terindah bagiku, akan kusimpan mawarku ini dalam hati yang terdalam hingga akhir masa hidupku, semuanya untuk Nuriku.
5 tahun kemudian
“Maaf apa benar mbak yang namanya Nuri”Tanya seorang wanita tua kepadanya
“Ia benar bu, ada apa ya? Timbalnya
“Maaf saya hanya ingin mengantarkan ini” wanita tua itu menyerahkan kotak kayu antik padanya.
“Apa ini bu? Dari siapa”
“Saya ibunya Adi, Adi Hendrawan”
“oh,, Adi teman saya SMU dulu ya bu, Adinya kemana? Dimana ia sekarang?”tanyanya penasaran
Tiba-tiba ibu itu terdiam dan butir-butir air mata nampak penuhi sudut matanya
“Ia sudah meninggal dua tahun yang lalu”. Ibu tua itupun pergi dengan tergesa-gesa sambil menyeka air matanya. 
“bu,,jangan dulu pergi!” teriaknya
Namun ucapannya tak diindahkan ,akhirnya ibu tua itupun pergi tanpa sepatah katapun. Perlahan ia buka lebar demi lembar kertas yang telah usang itu, amplop surat yang telah usang itu masih tercium harum, harum bunga mawar.




15 Desember 2001
Wahai Nuriku, pelita hatiku
izinkanlah aku merajut sebait kata dan doa untukmu
Agar tuhan terus menerus memanjangkan umurmu
Dan tak pernah merampasmu dariku
Sepenggal kata ini mungkin berarti untukmu atau bahagiakanmu.
Namun izinkan aku untuk mengagumimu
Menatapmu di sore hari bersama indahnya pelangi
Mungkin kau takkan pernah tau
Wahai bidadariku
Tanpamu aku lemah, aku hilang arah
Senyum yang nampak dari bibirmu yang ranum adalah nafasku
Nuriku, aku kirimkan surat ini dengan setangkai bunga mawar merah ini
Karena ku tau kau akan tersenyum bila melihat mawar
Dan aku tak mau ada kepedihan menghiasi sudut-sudut matamu

Air matanya menetes tak kuasa menahan haru,
” andai saja aku tahu hal ini sebelum ia meninggal ”gumamnya dalam hati.

 

1 komentar: